Sestyc twitter instagram pinterest

Sleppy Student


Gue tau kalian juga pasti bosan. Siapa coba yang tidak bosan jika di kurung seharian dirumah? Palingan juga bisanya cuma push papji sampai ace, sampai conqueror biarlah menjadi mimpi. Apalagi buat yang diasrama, dari bangun pagi sampai mau tidur pun muka yang dilihat pasti itu-itu saja, sejenis lagi . Bisa aja nanti tuh muka kebawa sampe mimpi. Pastiya bosan kan.

Harus diakui semenjak PJJ(Pembelajaran Jarak Jauh) kemarin berakhir kita jadi kehilangan sebagian besar kegiatan pengisi masa pandemi kita ini. Yang tadinya kita menghabiskan waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas(yang deadlinenya gak ngakhlak) sekarang kita habiskan untuk tidak ngapa-ngapain. Bahkan untuk narik nafas saja mungkin kita harus mikir dulu, bakal bosenin gak nih. Walaupun kalian sudah memiliki kegiatan sendiri untuk mengisi masa pandemi ini, lama-kelamaan kalian pasti bakal merasa bosan untuk melakukan hal itu lagi. Gue saja yang harusnya suka nonton anime sekarang malah bosan buat nonton anime. Bukan karena animenya jelek, entah kenapa bisa bosan saja. Ketika tidak banyak waktu buat nonton anime, gue malah semangat buat nonton. Giliran sudah banyak waktu buat nonton anime, gue malah malas buat nonton anime. Dan gua yakin ini pasti akan terjadi untuk kegiatan-kegiatan lainnya nanti.



Karena bosan #dirumahaja, kemarin gue iseng main ke teman-teman gue diasrama, alasannya mau ambil barang yang ketinggalan. Niat gue disana sebenarnya adalah untuk berbagi cerita dengan teman-teman gue di sana mengenai kehidupan masing-masing ditengah pandemi ini. Sekalian juga gue mau membandingkan kehidupan diluar dan didalam asrama ketika kedaan seperti ini. Gue juga tidak kaget dengan apa yang diceritakan mereka, karena memang tidak jauh dari ekspetasiku. Tidak banyak anak yang berada diasrama karena sebagian besar dari mereka memilih pulang ke keluarga mereka masing-masing, termaksud gue. Ini mungkin manjadi salah satu alasan mereka merasa bosan diasrama, selain karena dilarang keluar selangkah dan sedikitnya kegiatan yang bisa dilakukan didalam.

Selain itu gue juga sudah mulai rajin kontakan dengan teman-teman gue yang ada di Jayapura. Tentunya gue juga pasti menanyakan keadaan disana sudah seperti apa. Sebagian besar disana sudah dikalaim sebagai zona merah, tentunya penjagaan disana akan sangat ketat. Teman-temanku yang ada disana benar-benar tidak bisa keluar rumah sama sekali. Keluhan terbesar mereka tentunya sudah kita tau. Bosan.

Dari itu semua gue jadi mengetahui satu hal. Ternyata bukan cuma gue yang merasa bosan disini. Semua orang ternyata merasakan apa yang gue rasakan, bahkan ada yang lebih parah dari gue. Semua orang sangat merindukan masa-masa saat tidak ada covid-19. Dimana semua bisa berkumpul bersama, bermain bersama, belajar bersama, hangout bersama, berkegiatan bersama, sampai berbuat dosa bersama. Parah sih. Tapi yang sebenarnya gue rindukan bukanlah itu semua, melainkan uang jajan. Gila uang jajan gue kesumbat 3 bulan ajg.



Mau curhat sebanyak apapun rasanya pandemi ini tidak akan kelar. Bapak presiden tercinta kita saja sudah pasrah, sampai mencentuskan untuk memulai new normal. Semua itu karena rakyat Indonesia inilah. Disuruh diam dirumah malah ngumpul rame-rame diluar, gak punya rumah kah kalian? Sebagai para penerus bangsa(d) harusnya kalian bisa tau mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat keadaan seperti ini. Semua orang mau keadaan kembali normal, bukannya malah new normal. Jadi tetaplah #dirumahaja dan jaga Kesehatan. Itu saja sudah cukup.

Pada akhirnya apa yang bisa gue lakukan dirumah hanya itu-itu aja. Kalau tidak ngegame pasti nonton anime, walaupun cuma satu atau dua episode. Sambil nikmati boba rasa matca yang dijual dekat rumah gue dan bisa ditawar harganya, gue iseng saja nulis-nulis kayak ginian. Lumayan buat mengisi kebosanan gue ditengah pandemi ini. Hitung-hitung buat menaikan minat baca generasi gue yang kecil ini, walaupun cuma naik 0,001% tapi tidak apa-apalah.

Mungkin itu aja yang bisa gue ceritain. Eh bukan 'bisa' sih , lebih tepanya 'mau'. Soalnya buat lanjut ngetik lagi juga gue sudah mulai bosan.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya pandemi virus corona (Covid-19). Biasanya umat islam akan berkumpul bersama dimasjid atau lapangan untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri di pagi hari. Namun untuk tahun ini tampaknya kegiatan itu sedikit terhalang.

Bagi orang beriman, mereka mungkin menganggap pandemi ini adalah ujian dari Tuhan. Kalau di sekolah, selama ujian berlangsung kita harus selalu mempersiapkan diri kita. Belajar dan menjaga kesehatan merupakan kunci utamanya. Begitu juga dengan pandemi ini. Kita harus mempersiapkan diri kita untuk menjalani pandemi ini. Kita harus mulai untuk belajar menahan diri kita. Menahan diri untuk tidak keluar rumah agar menghindari keramaian, menahan diri untuk tidak hidup konsumtif, dan sebisanya menahan diri untuk tidak mudik. Semua ini dilakukan untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona (Covid-19) di negara kita ini.


Bersilaturahmi dan saling berjabat tangan tampaknya sudah menjadi tradisi saat lebaran entah dari tahun kapan. Namun dalam keadaan seperti ini hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan. Ini bukan berarti menjadi alasan untuk menghilangkan semangat lebaran kita di tahun ini. Kita bisa melakukan berbagai aktivitas seru untuk menceriakan suasana lebaran hanya dari rumah saja.
Tradisi lebaran bukannya dihilangkan, melainkan hanya diganti caranya. Mungkin kita akan merasa aneh dengan cara perayaan lebaran tahun ini. Tetapi itu semua tidak akan mengurangi keceriaan lebaran sama sekali, asalkan kita benar-benar menyadari keceriaan itu ada. Lalu bagaimana cara kita bisa menyadari keceriaan di lebaran kali ini tanpa mudik dan bersilahturahmi?

Silaturahmi yang sebenarnya adalah membangun ikatan yang kasih sayang kepada sesama, entah itu keluarga, teman, tetangga, bahkan orang yang tidak kau kenal sekalipun. Ikatan tersebut dapat dibangun dengan berbagai cara, bukan hanya dengan datang ke rumah teman atau kerabat dan berbincang-bincang guna mempererat ikatan. Padahal tujuan sebenarnya menghabiskan makanan dirumahnya, hehe.


Sejujurnya silaturahmi itu tidak harus bertemu tatap muka secara langsung. Dimana hanya dengan modal gadget, paket/wifi, dan  niat , kita bisa merasakan keceriaan lebaran di tengah pandemi ini.

Ditengah era digital ini banyak perkembangan teknologi yang dapat membantu kegiatan manusia dalam berbagai bidang, terutama dalam berkomunikasi. Kehadiran beberapa aplikasi seperti zoom, whatapp, skype, google duo dan kawan-kawannya yang lain, sangat membantu kita untuk bisa berkomunikasi dengan teman atau keluarga yang jauh hanya dari rumah saja. Bahkan hal ini tidak hanya bisa dilakukan oleh individu dan individu, tetapi juga oleh individu dengan kelompok. Apa artinya? Artinya kita bisa memanfaatkan teknologi untuk berkomunikasi dengan teman atau keluarga kita dalam jumlah banyak disaat yang sama.

Saya yakin kalian sudah terbiasa dengan fungsi teknologi yang satu ini. Jelaslah, namanya jua anak era digital. Kini kita menggunakan teknologi untuk berkomunikasi dengan teman atau keluarga. Tidak perlu berjabat tangan, cukup menyapa dengan sopan dan memohon maaf jikalau ada salah. Mulailah berbincang seperti biasa, dekatkan diri dengan video call. Jarak sejauh apapun akan terasa dekat dengan  ini.


Bersilaturahmi secara digital, tidak ada salahnya juga bukan? Kesan dan keceriaannya tidak akan berkurang sama sekali, tergantung bagaimana teman-teman menanggapinya. Sadarilah bahwa kecerian itu bisa ditemukan didalam aktivitas-aktivitas sederhana seperti ini. Yang tidak bisa ditemukan hanyalah ketupat. Hehe.

Sekarang tunggu apa lagi? Segera ambil gadget kalian lalu hubungi teman dan keluarga kalian yang sedang jauh. Sahabat, orang tua, saudara, kakek, nenek, dan siapa saja yang ingin anda temui, sapa mereka semua dengan semangat lebaran. Minta maaf atas semua kesalahan yang pernah kamu buat, baik yang sengaja maupun tidak sengaja. Bagikan ceritamu kepada mereka, bangunlah ikatan yang lebih erat diantara kalian. Sebab begitulah silaturahmi yang benar dilakukan.


Selamat lebaran semuanya! By the way, maaf uploadnya telat hehe.

#BerbagiCeritaCovid
#Covid19diaries
#UReportCovid19

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kita hidup era digital. Dimana segala hal dapat dilakukan hanya dengan sekali ‘click’. Tentunya ini sangat membantu kehidupan masyarakat dari segala golongan. Mulai dari yang sudah tua sampai yang masih bayi sekalipun. Dan salah satu golongan yang mungkin paling merasakan manfaat dari fenomena ini (asekkk) adalah para remaja.


Perkembangan teknologi di era digital ini sangat membantu remaja dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bidang pendidikan. Mulai dari mengenal lebih luas tentang dunia, belajar, mengerjakan tugas, mencari materi pendukung, serta mencari jawaban dari tugas-tugas yang diberikan dari bapak-ibu guru tercinta. Hai sobat brainly.

Dengan kekreatifannya, seorang remaja dapat mengoptimalkan fungsi teknologi yang ada dan memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang lain. Seperti berkarya, membuat usaha kecil, bahkan sampai mengembangkan teknologi itu sendiri ketingkat yang lebih tinggi. Istilahnya meng-upgrade. Sekali lagi saya bilang ‘dengan kekfreatifannya’ jadi jika seorang remaja tidak mengasah kekreatifannya, saya yakin dia tidak bisa melakukan hal-hal tersebut.



Ditengah-tengah perkembangan teknologi ini pastinya ada yang paling mencolok, yang dimana kita tahu yaitu sosial media. Konsep dari dibuatnya sosial media adalah memudahkan berkomunikasi dan memeperdekatkan orang yang jauh. Namun seperti yang saya bilang tadi, tanpa kekreatifan seorang remaja malah membelokan konsep sosial media.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja mulai menghawatirkan, banyak persoalan yang mulai muncul. Mereka menjadikan sosial media sebagai habitat baru mereka, tempat mereka mencaci maki seseorang, menghina karya orang lain, mengundang pertingkaian, pamer kekayaan orang tua, bahkan sampai memakan kehidupan nyata mereka. Kehidupan maya dan kehidupan nyata mereka kini sudah berbalik


Kita sebagai remaja perlu sadar bahwa adanya sosial media berdampak lebih besar, bukan hanya sekedar mengundang hal-hal negatif seperti itu. Kita sebagai pengguna harus pintar dalam mengendalikan fungsi sosial media dengan baik, sehingga kita dapat merasakan manfaat sebenarnya dari sosial media itu sendiri. Jadikan sosial media sebagai sarana berkomunikasi yang baik, sebagai patform untuk berkarya, sebagai sarana yang menghubungkan orang yang jauh, dan tentunya sebagai tempat mencari dan membagi informasi-informasi yang bermanfaat. Jangan biarkan kehidupan kita dikendalikan oleh sosial media. Ingat, sosial media diciptakan untuk dimanfaatkan bukan memanfaatkan.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah perlu ada materi etika bersosial media masuk dalam salah satu materi pembelajaran di sekolah, misalanya dalam pembelajaran Budi Pekerti. Orang tua atau pendamping juga harus berperan dalam pengawasan remaja dalam berkomunikasi dan memberikan nilai - nilai yang dibutuhkan. Dan yang paling penting, pribadi kita sendiri sebagai seorang pelajar harus pintar-pintar dalam menghadapi perkembangan digital, terutama di sosial media. Sehingga kita bisa merasakan manfaat sebenarnya dari sosial media.

Udah, selesai.


Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar

Kemarin gue habis nonton film “voice” yang disutdradarai oleh Marjane Satrapi. Film ini mengisahkan kehidupan seorang pekerja penderita delusi, yang diperankan oleh Ryan Reynolds. Delusi ini menyebabkan dia bisa berbicara dengan hewan peliharaannya. Bahkan dia juga bisa berbicara dengan mayat. Pihak rumah sakit mengharuskan dia meminum obat yang diberikan setiap hari guna kesehatannya. Tetapi dia justru tidak mau minum obat itu. Karena dia merasa jika dia meminum obat itu maka hari-harinya akan terlihat sangat suram dan sulit. Tetapi berbeda jika dia tidak meminum obat itu, hari-harinya akan terlihat indah dan bahagia.

Singkat cerita dia suka dengan seorang temannya. Dia mengajak temannya itu kencan tetapi dia malah diphp-in. Hingga dalam sebuah kejadian dia ‘tidak sengaja’ membunuh temannya itu. Dalam film ini kita diceritakan bagaimana seorang penderita delusi mengatasi masalah seperti ini.




Oke gue stop sini karena gue takut artikel ini malah jadi review film.

Jadi dari film ini gue menyadari sesuatu yang menurut gue menarik untuk jadi pokok pembahasan. Gue menyadari bahwa setiap orang memiliki cara mereka masing-masing untuk menemukan kebahagiaan. Bahkan setiap orang itu punya pandangan masing-masing tentang kebahagiaan. Apa yang lu anggap kebahaagiaan belum tentu dianggap sama oleh orang lain.



Kebahagiaan [ke·ba·ha·gi·a·an], kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. Itu yang tertulis di dalam KBBI.  Nah setelah tau arti katanya, apakah kita bisa memahaminya dengan benar? Tidak.

Setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang kebahagiaan yang mereka cantumkan dalam kamus mareka masing-masing. Ada yang meranggapan kebahagiaan itu memiliki uang yang banyak. Ada juga yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu memiliki barang koleksi yang banyak. Bahkan juga ada yang beranggapan bahwa kebahagiaan itu memiliki pacar yang banyak. Wah parah sih kalo yang ini. Jangan di contoh.

Itu semua tidak salah. Seperti yang gue bilang tadi, bahwa setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang kabahagiaan. Tapi bisakah kita menurunkan nafsu kita terhadap hal-hal duniawi itu dan memandang kebahagiaan dari tingkatan yang lebih sederhana.


Dalam hidup, tidak ada satu pun yang benar-benar permanen atau kekal. Bahkan spidol permanen pun bisa dihapus kalau ditindis dengan spidol biasa. Ciri-ciri orang yang benar-benar bahagia adalah bisa menerima hal ini dengan tangan terbuka. Bahkan hal yang paling sederhana dalam kehidupan kita bisa menjadi sumber kebahagiaan kita.

Dichat sama orang yang kita suka. Sederhana bukan? Tapi bisa bikin kita bahagia loh.

Bagaimana jika hal-hal sederhana yang kita miliki tidak bisa membuat kita bahagia? Tergantung. Anda sudah memutuskan untuh bahagia atau tidak. Percayalah, Ketika lu benar-benar sudah memutuskan untuk bahagia, tangan-tangan tak kesat mat a itu pasti akan senantiasa mendorong dan membantumu mendapatkan kebahagiaan itu, sesederhana apapun itu. Percaya aja dulu, nyeselnya entar.

Sebab kebahagiaan itu disadari. Udah itu aja quotesnya. Bye.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kali ini saya mau menceritakan sebuah kejadian yang saya alami ketika sedang mengerjakan tugas.

Saat itu saya sedang mengerjakan tugas online dari guru saya. Disebelah saya saat itu ada sebuah gunting. Awalnya sih saya biasa-biasa saja dengan gunting itu, tidak ada yang aneh. Jadi saya abaikan saja keberadaan gunting itu.

20 menit sudah berlalu sejak saya mulai mengerjakan tugas. Karena lelah mengetik, saya memutuskan untuk istirahat sebentar. Saat sedang istirahat saya merasa ada yang sedang mengawasi saya. Saya melihat ke sekitar saya tidak ada siapa-siapa, didalam ruangan itu hanya ada saya seorang.

Setelah memandangi sekitar sekali lagi saya mulai menyadari, ternyata gunting yang ada di samping laptop saya tadi sedang menatap saya dengan tatapan yang tajam(namanya juga gunting). Spontan saya langsung menegurnya.

“Woy ngapain lu natap-natap gua kayak gitu!?”
“Ih geer banget, orang dari tadi gua natap tembok yang di belakang lu kok”
“Gak usah boong lu, kasi tau dah kalau punya masalah sama gua”
“Gak ada apa-apa kok”
“Yaelah kek cewe aja lu, udah ngomong aja kalau emang lu laki”
“Yah udah nih gua kasi tau, lu tuh punya masalah sama gua”
“Masalah apa dah, penasaran gua gak pernah ada cari masalah sama lu”
“Coba ingat waktu lu kerjain tugas prakarya minggu lalu. Disitu pas lu mau motongin kertas, lu malah pakai  cutter, bukan gua”
“Lah itukan terserah gua mau pakai apa, lagi pula gak ada undang-undang untuk selalu menggunakan gunting ketika mau memotong sesuatu”
“Lu pikir gua dicipkatakan buat motong apa ajg!? motong jembud lu!?”

Ada benarnya juga dia.

“Ya udah deh gua minta maaf”
“Enak aja, lu kira bisa minta maaf semudah itu?”
“Trus lu maunya apa sekarang?”
“Gua mau kita duel”
“Duel? duel apaan dah?”
“Suit! Kita main 3 putaran. Kalau gua menang lu harus buang tuh cutter dan pakai gua untuk motong sesuatu. Kalau lu yang menang lu bebas apain gua”
“Oke deal! Siapa takut”

Putaran pertama. Dalam putaran pertama ini saya mengeluarkan batu dan gunting mengeluarkan gunting.
“Yes gua menang”
“Jangan senag dulu bro, masih ada dua putaran lagi”

Putaran kedua. Kali ini saya mengeluarkan kertas dan gunting mengeluarkan gunting.
“Hahaha”
“Kita seri bro”

Putaran kedua. Diputaran ketiga ini hasilnya sangat mengejutkan. Dimana saya mengeluarkan gunting dan gunting mengeluarkan gunting.
“Hampir aja gua ngeluarin kertas”
“Oke yang terakhir ini bakal menentukan siapa yang menag”

Final. Diputaran akan menentukan hasil dari duel ini. Kali ini saya mengelurkan kertas dan gunting lagi-lagi mengeluarkan gunting.
“Tidakkk”
“Makan tuhhh”

Sungguh tidak diduga. Siapa sangka gunting akan mengeluarkan gunting empat kali berturut-turut. Sungguh strategi yang bagus dari sebuah gunting. Memang kenyataannya pahit, tapi sayalah yang kalah dalam duel ini. 
Di tengah kekalahan itu ada sesuatu yang janggal di pikiran saya mengenai hukuman yang akan say dapatkan. Lantas saya bertanya;
“Eh bentar. Btw yang tadi lu maksud 'sesuatu' itu apa ?“

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Page

  • Beranda
  • About me

About me

Cek Kepribadian Anda Berdasarkan Kebiasaan Coretan Tangan ...
Kay

Seorang anak yang masa sekolahnya diganggu oleh covid-19. Mulai menulis karena bosan dengan pandemi. Sekarang sedang menikmati masa remajanya dari dalam kamar.

What you looking for?

Recommendations for you

Dark (TV Series 2017–2020) - IMDb
Series

Other Posts

  • Bercanda di Tengah Bencana
    Kasus COVID-19 di berbagai negara semakin lama semakin meningkat. Tentunya hal ini menimbulkan kecemasan bagi sebagian orang. Beberap...
  • Mulai Bosan
    Gue tau kalian juga pasti bosan. Siapa coba yang tidak bosan jika di kurung seharian dirumah? Palingan juga bisanya cuma push papji ...
  • Bermain di Rumah Teman (short creepy story)
    Kemarin aku bermain dirumah temanku, namanya Eka. Saat itu hanya ada kami berdua disana. Orang tua Eka sedang kerja keluar kota. Tent...

Created with by ThemeXpose